Saking larutnya dalam pekerjaan aku sampai tidak lagi memikirkan cerita-cerita seram di kantor. Bokepindo “Pak…jangan gitu ah…” kataku gugup. Pacar Non itu, udah lama kan Non pulang sendiri aja…pasti udah kangen pengen entotan, hayo ngaku!” kurasakan wajahku memanas. Tangannya yang satu lagi terus memijat, mengelus dan kadang meremas kasar kedua gunung kembarku. Mendengar eranganku, lidahnya semakin menggelitik lubang telinga kananku. Kini di kantor hanya tinggal aku yang masih harus menyelesaikan pekerjaanku. Aku memang tidak berharap banyak padanya, kalaupun ia mau menikahiku, belum tentu dengan keluargaku. Mereka terdiam selama beberapa menit, tidak bergerak sama sekali, seperti berusaha menikmati sisa-sisa orgasme hebat yang masih melanda.




















